Kata Pengantar

Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dengan senang hati menyajikan laman penelitian internasional ini kepada masyarakat ilmuwan, arsiparis dan pihak-pihak lain pada tataran internasional yang tertarik pada sejarah Indonesia serta sejarah bahari Asia Tenggara.

Kata Pengantar: Dr. Mustari Irawan, 
Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia

Pasca Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, ANRI mewarisi sejumlah besar arsip periodeabad ketujuh belas hingga pertengahan abad kedua puluh, yang berasal dari masa Kompeni (VOC) dan masa pemerintah kolonial Hindia Belanda (1818-1942). Semua arsip tersebut disimpan dan dikelola ANRI dengan cermat dan penuh perhatian

Sejak tahun 2000-2007, sebagian besar dari arsip VOC tersebut telah dibuat inventarisnya, bekerjasama dengan Arsip Nasional Belanda dan Universitas Leiden. Pada Maret 2004, khazanah arsip VOC telah diakui oleh UNESCO dan dimasukkan dalam Memory of the World Register. Dengan demikian khazanah arsip tersebut telah dilindungi serta diakui secara internasional sebagai warisan sejarah dunia. ANRI terpanggil untuk membuka koleksi tersebut dalam jaringan (daring) bagi masyarakat ilmuwan di seluruh dunia.

ANRI bergembira dapat bekerjasama sejak 2011 dengan Yayasan Corts dalam program pelestarian arsip. Tahap kedua kerjasama tersebut (2014-2017) termasuk membuka akses bagi masyarakat umum kepada khazanah kami, dan untuk keperluan itu, laman berikut ini sangatlah penting. Kami berharap banyak peminat internasional dan Indonesia akan berkunjung ke laman kami.

Jakarta, Juni 2014

Kata Pengantar: Egbert Jacobs,
Presiden Yayasan Corts

Sebagai sebuah organisasi non-pemerintah di bidang warisan kebudayaan, Yayasan Corts berbangga dapat kembali terlibat dalam tahap kedua (2014-2017) kerjasama dengan ANRI, terkait pelestarian secara digital khazanah arsip abad ketujuh belas dan kedelapan belas yang tersimpan dalam depot arsip ANRI di Jakarta.

Dengan demikian kami melaksanakan tujuan yang tertera dalam peraturan dasar yayasan kami, yaitu menyorot sejarah Indonesia di abad ketujuh belas dan kedelapan belas serta selama Perang Dunia Kedua. Sasaran utama kerjasama kami adalah mengalihkan dokumen dalam bentuk digital serta melestarikan, menguraikan dan menciptakan metadata. Agar dapat memilih dengan cermat, kami bekerjasama dengan para arsiparis ANRI serta para sejarawan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dan Negeri Belanda

Dengan mengalihmediakan khazanah arsip ke dalam bentuk digital, kami dapat menyimpan arsip asli yang rapuh sementara menyediakan akses kepada para peneliti. Namun disisi lain, arsip digital juga lebih mudah rusak dibanding arsip aslinya. Oleh sebab itu, pada tahap ini kami harus dapat membuat pilihan tepat terkait bagaimana memantau dampak-dampaknya di masa depan. Sungguh suatu tantangan besar bagi kita semua!

Dalam era globalisasi kini, sangatlah penting untuk saling bertukar pandangan serta mengalihkan pengetahuan di tataran internasional. Yayasan kami tetap berpegang pada pandangan tersebut dengan mendorong serta memfasilitasi alih pengetahuan dan dengan menghimpun para ahli dari berbagai penjuru dunia.

The Hague, June 2014